Sumber ( youtube )
Sunni - Syiah dalam Tinjauan
PENGERTIAN SUNNI DAN SYIAH
Sunni adalah kependekan dari Ahl
al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama’ah atau kadang juga
lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah saja. Istilah ini memiliki
pengertian sebagai kumpulan dari orang-orang yang menganut sunnah Nabi
Muhammad Saw seperti yang sudah dilakukan oleh kelompok para sahabat
dimasa lalu. Dalam prosesnya, istilah tersebut identik dengan manhaj
atau madzhab para sahabat Rasul.
Syiah berarti pembela.
Dalam hal ini maksudnya adalah pembela keluarga atau Ahli Bait Nabi Muhammad.
Ini mengacu pada sekelompok orang yang menjadikan dirinya selaku pembela para keluarga Nabi Muhammad dari dinasti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib atas kezaliman dinasti Muawiyah.
Dalam hal ini maksudnya adalah pembela keluarga atau Ahli Bait Nabi Muhammad.
Ini mengacu pada sekelompok orang yang menjadikan dirinya selaku pembela para keluarga Nabi Muhammad dari dinasti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib atas kezaliman dinasti Muawiyah.
Pada proses perjalanan waktu, kelompok
ini membentuk madzhab atau komunitas tersendiri. Sama seperti halnya
kaum Sunni. Mereka justru membuat agama menjadi parsial, sesuai dengan
kelompok mereka masing-masing.
Tidak ada yang salah dengan kedua
istilah tersebut, Syiah dan Sunni merupakan istilah yang terbentuk
setelah ajaran Islam selesai diwahyukan, keduanya pada dasarnya
merupakan polarisasi pemahaman yang berawal dari pemilihan pemimpin umat
Islam pasca kematian Nabi yang akhirnya meluas sampai pada tingkat
penyelewengan dimasing-masing pemahaman oleh generasi-generasi
sesudahnya.
Sudah sampai saatnya masing-masing kita
melakukan koreksi diri terhadap apa yang selama ini terdoktrinisasi,
bahwa pelurusan sejarah serta pentaklidan buta sudah saatnya dilakukan.
Isyu perpecahan didalam Islam memang bukan hal yang baru dan rasanya ini sesuatu yang wajar karena setiap orang bisa memahami ajaran Islam dari sudut pandang keilmuan yang berbeda, apalagi Islam mencakup pengajaran semua bangsa dan daerah yang masing-masingnya memiliki corak budaya, tradisi serta situasi yang beraneka ragam sebagai salah satu sifat universalismenya.
Isyu perpecahan didalam Islam memang bukan hal yang baru dan rasanya ini sesuatu yang wajar karena setiap orang bisa memahami ajaran Islam dari sudut pandang keilmuan yang berbeda, apalagi Islam mencakup pengajaran semua bangsa dan daerah yang masing-masingnya memiliki corak budaya, tradisi serta situasi yang beraneka ragam sebagai salah satu sifat universalismenya.
Semua perbedaan tersebut seharusnya
tidak dijadikan sekat dalam mengembangkan rasa kebersaudaraan dan
toleransi beragama, sebagaimana sabda Nabi sendiri bahwa umat Islam itu
bagaikan satu tubuh, semuanya bersaudara yang diikat oleh tali Tauhid,
pengakuan ketiadaan Tuhan selain Allah, Tuhan yang satu, yang tidak
beranak dan tidak diperanakkan dalam berbagai bentuk, penafsiran serta
sifat apapun.
Karenanya kecenderungan untuk menghakimi
pemahaman yang berbeda dari apa yang kita pahami apalagi sampai
melekatkan label kekafiran atasnya sangat bertentangan dengan ajaran
Islam yang disampaikan oleh Allah melalui nabi-Nya.
“Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita,
mengerjakan Sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita,
maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama
sebagai Muslim lainnya.”
- Riwayat Bukhari -
mengerjakan Sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita,
maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama
sebagai Muslim lainnya.”
- Riwayat Bukhari -
Maraknya ajaran-ajaran sesat yang
terjadi diberbagai belahan dunia akhir-akhir ini memang sewajarnya
membuat umat Islam merasa prihatin, terlebih lagi mereka yang
menggunakan nama dan tata cara Islam sebagai topeng yang menutupi
kesesatannya. ; Akan tetapi kita juga harus mampu bersikap objektif,
berpikiran terbuka dan jernih menyikapinya, selama kita belum mengetahui
secara jelas seberapa jauh penyimpangan yang dianggap sudah dilakukan
oleh mereka maka selama itu pula hendaknya kita menahan diri dari
komentar maupun tanggapan yang justru menimbulkan keresahan
dimasyarakat.
Saya tidak terikat dengan organisasi
keagamaan manapun atau juga madzhab apapun yang ada, secara plural saya
menganggap semuanya mengajarkan kebaikan dan dari masing-masing kebaikan
yang diajarkan itu saya memetik nilai-nilai kebenaran yang sesuai
dengan nash kitab suci serta objektifitas berpikir.
Islam adalah satu, semuanya bersumber
dari ajaran yang satu, yaitu Yang Maha Kuasa yang kemudian diturunkan
kepada kita melalui salah seorang hamba terkasih-Nya bernama Muhammad
bin Abdullah ditanah Arab pada abad ke-6 masehi.
Jika Islam adalah satu, maka umatnya pun adalah satu dan ini konsekwensi logis darinya, karena itu Nabi bersabda :
“Dari Miqdad bin ‘Amr ; ia pernah
bertanya kepada Nabi : Bagaimana jika ia berperang dengan kaum kafir,
lalu berkelahi dengan seorang diantaranya hingga tangannya terputus dan
dalam satu kesempatan sang musuh berhasil dijatuhkan lalu saat akan
dibunuhnya dia berseru “Aslamtu lillah” – aku Islam kepada Allah – namun
masih dibunuhnya, apa jawab Nabi ?
- Jangan kau bunuh dia, jika kau bunuh dia maka sesungguhnya dia sudah berada dalam kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya, yaitu seorang Muslim, sedangkan kamu berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat itu (yaitu kafir).; lalu dijawab oleh Miqdad bahwa pernyataan orang itu hanya untuk menghindari pembunuhan saja, jawab Nabi lagi, bahwa dirinya diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang.”
- Jangan kau bunuh dia, jika kau bunuh dia maka sesungguhnya dia sudah berada dalam kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya, yaitu seorang Muslim, sedangkan kamu berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat itu (yaitu kafir).; lalu dijawab oleh Miqdad bahwa pernyataan orang itu hanya untuk menghindari pembunuhan saja, jawab Nabi lagi, bahwa dirinya diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang.”
“Islam adalah kesaksian bahwa Tiada
Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah Saw, atas dasar
itulah nyawa manusia dijamin keselamatannya. Dan atas dasar itu juga
berlangsung pernikahan dan pewarisan serta terbina kesatuan kaum
Muslimin.” – Riwayat Sama’ah
“Nabi bersabda : bahwa Jibril datang
kepada beliau dan mengabarkan tentang keutamaan seseorang yang meninggal
dunia dalam keadaan bertauhid secara murni maka ia akan masuk syurga
kendati ybs pernah berzina dan mencuri.” – Riwayat Bukhari dari Abu Dzar
Kita semua tahu bagaimana vitalnya posisi dan peranan Ali bin Abu Thalib dikehidupan Nabi dan putrinya Fatimah.
Sejak kecil, Nabi dibesarkan dalam
lingkungan keluarga ayahnya dari suku Bani Hasyim yang merupakan salah
satu keluarga terpandang dikalangan penduduk Mekkah saat itu. Ketika
kakeknya Abdul Muthalib wafat, hak pengasuhan atas diri Nabi pindah
ketangan pamannya yang bernama Abu Thalib, dari pamannya inilah Nabi
belajar banyak hal mengenai perdagangan dan kejujuran hingga beliau
dikenal sebagai al-Amin (orang yang terpercaya) sampai-sampai beliau
dipercaya untuk membawa dan menjualkan dagangan sejumlah saudagar hingga
kenegri Syam dan bertemu dengan Khadijjah yang kelak dinikahinya.
Dimasa awal turunnya wahyu, selain
istrinya, orang kedua yang mengimani kenabiannya adalah Ali putra
pamannya, Abu Thalib yang dengan beraninya mengumumkan keislamannya
secara terbuka kepada keluarganya.
Dalam bukunya yang berjudul “Sejarah
Hidup Muhammad”, hal 89, Muhammad Husain Haekal menggambarkan pernyataan
kesetiaan Ali terhadap Nabi sebagai berikut :
“Tuhan menjadikanku tanpa aku perlu
berunding dengan Abu Thalib, apa gunanya aku harus berunding dengannya
untuk menyembah Allah ?”; selanjutnya pada halaman 92 juga dituliskan
pernyataan Ali yang lain : “Rasulullah, aku akan membantumu, aku adalah
lawan siapa saja yang menentangmu”.
Meskipun demikian, Abu Thalib sendiri
menurut riwayat tetap pada keyakinan lamanya sebagai penyembah berhala,
bertolak belakang dengan sikap putranya. Namun perbedaan keyakinan
antara mereka tidak membuat Abu Thalib melepaskan perlindungan dan kasih
sayangnya pada diri Nabi, Ali dan Khadijjah, beliaulah yang sering
melakukan pembelaan manakala ada pihak Quraisy yang bermaksud
mencelakakannya dan ini terus dilakoninya sampai ia wafat.
Ali bin Abu Thalib telah ikut bersama
Nabi semenjak usia anak-anak, jauh sebelum Nabi bertemu dengan para
sahabat lainnya, karena itu juga mungkin beliau digelari
Karamallahuwajhah (yaitu wajah yang disucikan Allah dari penyembahan
berhala).
Allah sendiri melalui wahyu-Nya telah menekankan kepada Nabi agar terlebih dahulu menyerukan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya :
Allah sendiri melalui wahyu-Nya telah menekankan kepada Nabi agar terlebih dahulu menyerukan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya :
Dan berilah peringatan kepada keluargamu
yang terdekat, Limpahkanlah kasih sayang terhadap orang-orang beriman
yang mengikutimu; Jika mereka mendurhakaimu maka
katakanlah:”Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang
kamu kerjakan”. – Qs. Asy-Syu’araa 26:214-216
Seruannya memang di-ikuti oleh
keluarganya dimulai oleh Khadijjah istrinya, Ali bin Abu Thalib sepupu
sekaligus menantunya kelak, paman sesusuannya, Hamzah bin Abdul
Muthalib, Ja’far bin Abu Thalib dan pamannya Abbas bin Abdul Muthalib.
Olehnya tidak menjadi suatu kesangsian
lagi bila Ali mengenal betul sifat dan watak yang ada pada diri Nabi
sehingga tidak ada alasan baginya untuk menolak perintah maupun
membantah keputusannya, terlebih dalam kapasitasnya selaku seorang Rasul
Tuhan. ; Jelas dalam hal ini sikap Ali bin Abu Thalib tidak bisa
disejajarkan dengan sikap beberapa sahabat yang kritis dan vokal
terhadap beberapa pendapat Nabi, bisa dimaklumi bahwa notabene mereka
mengenal Nabi tidak lebih lama dari Ali bin Abu Thalib selain juga
ditentukan oleh faktor watak dan kondisi lain yang melatar belakanginya.
Dimalam hijrahnya ke Madinah, Nabi
meminta Ali bin Abu Thalib menggantikan posisi tidurnya dipembaringan
dengan mengenakan mantel hijaunya dari Hadzramut, menyongsong rencana
pembunuhan yang sudah disusun oleh para kafir Quraisy yang saat itu
berada disekitar kediaman Nabi.
Tindakan Nabi ini seolah mengisyaratkan
bahwa beliau berkeinginan untuk menjadikan sepupunya itu pengganti
dirinya dikala hidup dan mati.
Saat Nabi mempersatukan kaum Muhajirin
dan Anshar dikota Madinah, Nabi sendiri justru mengangkat Ali bin Abu
Thalib sebagai saudaranya (padahal keduanya sama-sama Muhajirin),
berbeda misalnya dengan Abu Bakar yang disaudarakan dengan Kharija bin
Zaid, Umar bin Khatab dengan ‘Itban bin Malik al-Khazraji, bahkan
pamannya sendiri yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dipersaudarakan dengan
Zaid, mantan budaknya.
Persaudaraannya ini sering di-ingatkan
oleh Nabi dalam hadis-hadisnya bahwa kedudukannya terhadap Ali laksana
kedudukan Musa terhadap Harun (bukankah dalam al-Qur’an surah al-A’raaf 7
: 142 disebutkan bahwa Harun menjadi pengganti Musa tatkala beliau
berangkat ke Sinai untuk mendapat wahyu ? )
Dari Sa’ad bin Abu Waqqas : “Rasulullah
Saw mengatakan kepada Ali : Engkau dengan aku serupa dengan kedudukan
Harun dengan Musa, tetapi sesungguhnya tidak ada Nabi sesudah aku” –
Hadis Riwayat Muslim
Saat semua sahabat utamanya mengajukan
lamaran untuk menyunting Fatimah sebagai istri mereka, Nabi menolaknya
dan menikahkan putri tercintanya itu dengan Ali bin Abu Thalib.
Tatkala Hisyam bin Mughirah meminta izin kepada Nabi agar memperbolehkan mengawinkan anak perempuannya dengan Ali, Nabi juga menolaknya dan bersabda :
Tatkala Hisyam bin Mughirah meminta izin kepada Nabi agar memperbolehkan mengawinkan anak perempuannya dengan Ali, Nabi juga menolaknya dan bersabda :
“Aku tidak mengizinkan, sekali lagi aku
tidak mengizinkan dan sekali lagi aku tidak mengizinkannya kecuali bila
Ali bin Abu Thalib mau menceraikan puteriku dan kawin dengan anak-anak
perempuan Hisyam, karena sesungguhnya, puteriku darah dagingku,
menyusahkanku apa yang menyusahkannya dan menyakitkanku apa saja yang
menyakitkannya” – Riwayat Muslim
Ali juga merupakan satu-satunya orang
yang diserahi panji Islam dalam peperangan Khaibar oleh Nabi yang
menurut beliau bahwa panji itu hanya layak bagi laki-laki yang
benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya lalu ditangannya Allah akan
memberikan kemenangan.; Padahal Umar bin Khatab sangat berambisi agar
tugas itu diserahkan kepadanya. (Riwayat Muslim dan Bukhari)
Saat akan terjadi Mubahalah antara Nabi
dengan para pendeta dari Najran, beliau memanggil Ali, Fatimah serta
kedua cucunya yaitu Hasan dan Husin untuk mendampinginya baru para istri
beliau (ini ditegaskan juga dalam surah 3 Ali Imron ayat 61 yang
mendahulukan penyebutan anak-anak Nabi dari istri-istrinya, ditambah
riwayat dari Imam Muslim bahwa saat itu Nabi menunjuk Ali, Fatimah,
Hasan dan Husin sebagai keluarganya).
Dalam haji terakhirnya disuatu daerah
bernama ghadir khum, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi sempat
menyinggung tentang regenerasi kepemimpinan umat sepeninggal beliau dan
mengumumkan Ali sebagai penerusnya.; dan memperingatkan kaum Muslimin
agar memperhatikan keluarga beliau sepeninggalnya kelak, ucapan ini
sampai diulangnya sebanyak 3 kali, dan Zaid bin Arkam menyatakan bahwa
yang dimaksud oleh Nabi adalah keluarga Ali, ‘Aqil, keluarga Ja’far dan
keluarga ‘Abbas. – Riwayat Muslim
Menjelang akhir hayatnya, Nabi
menugaskan sebagian besar sahabat utamanya termasuk Abu Bakar dan Umar
kedalam satu ekspedisi ke daerah Ubna, suatu tempat di Syiria dibawah
komando Usamah bin Zaid bin Haritsah, sementara Ali sendiri diminta
untuk tetap menemani hari-hari terakhirnya dikota Madinah serta
memberinya wasiat agar mau mengurus jenasah dan pemakamannya bila
waktunya tiba.
Ini juga tersirat tentang keinginan Nabi
menjadikan dan memantapkan posisi Ali sebagai pengganti beliau memimpin
umat, dijauhkannya para sahabat senior lain dari kota Madinah agar
ketika mereka kembali tidak akan terjadi keributan seputar suksesi
kepemimpinan.
Hanya sayang rencana Nabi kandas karena
sebagian sahabat senior merasa enggan berada dalam komando Usamah bin
Zaid yang masih relatif remaja sampai Nabi marah dan mempertanyakan
kredebilitas dirinya dihadapan mereka mengenai penunjukan Usamah itu.
Pada akhirnya kehendak Nabi harus mengalah dengan kehendak Tuhan yang sudah mentakdirkan jalan lain, tidak ubah seperti keinginan Isa al-Masih agar cawan penyaliban dihindarkan darinya namun Tuhan tetap menginginkan semuanya terjadi sesuai mau-Nya.
Pada akhirnya kehendak Nabi harus mengalah dengan kehendak Tuhan yang sudah mentakdirkan jalan lain, tidak ubah seperti keinginan Isa al-Masih agar cawan penyaliban dihindarkan darinya namun Tuhan tetap menginginkan semuanya terjadi sesuai mau-Nya.
Nabi wafat dipelukan Ali setelah
membisikkan kepada Fatimah agar tidak bersedih sepeninggalnya karena
dalam waktu tidak berapa lama setelah kematiannya, putrinya itupun akan
menyusulnya.
Ali juga yang memandikan jenasah Nabi
bersama Ibnu Abbas dan mengurus pemakamannya, saat yang sama sekelompok
orang disaat itu malah meributkan suksesi kepemimpinan dan akhirnya
menobatkan Abu Bakar selaku Khalifah penerus Nabi dalam memimpin umat
serta melupakan semua peran dan posisi Ali dihadapan Nabi.
Inilah awal dari isyu perpecahan ditubuh
Islam, sebagai bentuk protes terhadap perbuatan mereka ini, Ali,
Fatimah dan sejumlah sahabat lainnya menolak mengakui kepemimpinan Abu
Bakar, lebih-lebih lagi setelah sang Khalifah menolak memberikan tanah
Fadak yang diwariskan Nabi kepada Fatimah hasil rampasan perang
Khaibar.; Padahal semua orang tahu, bahwa menyakiti Fatimah sama seperti
menyakiti Nabi, namun mereka mengabaikannya hingga akhirnya Fatimah
wafat dalam keadaan tetap mendiamkan Abu Bakar dan menolak berbaiat
kepada pemerintahannya.
Ali bin Abu Thalib memakamkan jenasah
istrinya disuatu tempat pada malam harinya secara diam-diam dan hanya
dihadiri oleh para simpatisan dan pengikut mereka karena tidak ingin
dihadiri oleh pihak yang berseberangan dengannya.
Menyangkut perseteruan antara Ahli Bait
dalam hal ini adalah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakar,
maka untuk perbandingan yang jujur, saya coba hadirkan nilai-nilai
kebenaran sejarah tersebut dengan menggunakan literatur yang dipercayai
oleh kelompok sunni ( Ahli sunnah wal Jamaah ).
Dalam hal ini saya langsung merujuk ke Shahih Bukhari yang dianggap paling otentik dibanding yang lainnya …
Shahih ini saya nukilkan dari the Hadith
Software versi 1.0 dengan modul database Shahi Bukhari yang bisa anda
download dari situs http://www.islamasoft.co.uk/downloads.html
Hadis masih dalam bahasa inggris ( sesuai softwarenya ) sengaja tidak saya terjemahkan agar lebih menambah obyektifitas literatur yang saya bawa …saya juga sengaja memberikan referensi online softwarenya agar anda yang penasaran bisa melakukan cross check sendiri atas apa yang saya tuliskan disini.
Hadis masih dalam bahasa inggris ( sesuai softwarenya ) sengaja tidak saya terjemahkan agar lebih menambah obyektifitas literatur yang saya bawa …saya juga sengaja memberikan referensi online softwarenya agar anda yang penasaran bisa melakukan cross check sendiri atas apa yang saya tuliskan disini.
Shahi Bukhari Vol 4, Book 53. One-fifth Of Booty To The Cause Of All…. Hadith 325.
Narrated By ‘Aisha: (Mother of the believers) After the death of Allah ‘s Apostle FATIMA the daughter of Allah’s Apostle asked Abu Bakr As-Siddiq to give her, her share of inheritance from what Allah’s Apostle had left of the Fai (i.e. booty gained without fighting) which Allah had given him. Abu Bakr said to her, “Allah’s Apostle said, ‘Our property will not be inherited, whatever we (i.e. prophets) leave is Sadaqa (to be used for charity).” FATIMA, the daughter of Allah’s Apostle got angry and stopped speaking to Abu Bakr, and continued assuming that attitude till she died. FATIMA remained alive for six months after the death of Allah’s Apostle.
Narrated By ‘Aisha: (Mother of the believers) After the death of Allah ‘s Apostle FATIMA the daughter of Allah’s Apostle asked Abu Bakr As-Siddiq to give her, her share of inheritance from what Allah’s Apostle had left of the Fai (i.e. booty gained without fighting) which Allah had given him. Abu Bakr said to her, “Allah’s Apostle said, ‘Our property will not be inherited, whatever we (i.e. prophets) leave is Sadaqa (to be used for charity).” FATIMA, the daughter of Allah’s Apostle got angry and stopped speaking to Abu Bakr, and continued assuming that attitude till she died. FATIMA remained alive for six months after the death of Allah’s Apostle.
Shahi Bukhari Vol 5, Book 59. Military Expeditions Led By The Prophe…. Hadith 546.
Narrated By ‘Aisha: FATIMA the daughter
of the Prophet sent someone to Abu Bakr (when he was a caliph), asking
for her inheritance of what Allah’s Apostle had left of the property
bestowed on him by Allah from the Fai (i.e. booty gained without
fighting) in Medina, and Fadak, and what remained of the Khumus of the
Khaibar booty. On that, Abu Bakr said, “Allah’s Apostle said, “Our
property is not inherited. Whatever we leave, is Sadaqa, but the family
of (the Prophet) Muhammad can eat of this property.’ By Allah, I will
not make any change in the state of the Sadaqa of Allah’s Apostle and
will leave it as it was during the lifetime of Allah’s Apostle, and will
dispose of it as Allah’s Apostle used to do.”
So Abu Bakr refused to give anything of that to FATIMA. So she became angry with Abu Bakr and kept away from him, and did not task to him till she died. She remained alive for six months after the death of the Prophet. When she died, her husband ‘Ali, buried her at night without informing Abu Bakr and he said the funeral prayer by himself.
So Abu Bakr refused to give anything of that to FATIMA. So she became angry with Abu Bakr and kept away from him, and did not task to him till she died. She remained alive for six months after the death of the Prophet. When she died, her husband ‘Ali, buried her at night without informing Abu Bakr and he said the funeral prayer by himself.
Padahal … apa yang disabdakan oleh Nabi untuk puterinya itu ?
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 061.
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 061.
Narrated By Al-Miswar bin Makhrama: Allah’s Apostle said, “FATIMA is a part of me, and he who makes her angry, makes me angry.”
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 111.
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 111.
Narrated By Al-Miswar bin Makhrama: Allah’s Apostle said, “FATIMA is a part of me, and whoever makes her angry, makes me angry.”
Conclusion : Saat Abu Bakar telah
membuat Fatimah menjadi marah dan kecewa bahkan hingga beliau wafat
tidak mau berbaiat dan menolak melakukan komunikasi apapun dengan Abu
Bakar dan kelompoknya …. lebih jauh lagi dari hadis diatas puteri
kesayangan Nabi inipun seolah tidak rela jasad tak bernyawanya dilihat
oleh Abu Bakar dan disholatkan oleh beliau ….. sungguh mereka sudah
terkena apa yang disabdakan oleh Nabi … dalam hadis Bukhari no 061 dan
111 diatas.
Fatimah adalah bagian dari diri Rasul,
siapapun yang membuatnya murka maka sesungguhnya orang itu telah membuat
Rasul murka. Ada diantara anda yang mau mendapat murka Rasul ?
Orang yang telah sampai hati bersikap seperti ini sama artinya telah durhaka kepada Rasul, sebab telah melanggar apa yang beliau katakan.
Orang yang telah sampai hati bersikap seperti ini sama artinya telah durhaka kepada Rasul, sebab telah melanggar apa yang beliau katakan.
Artinya apa ?
Jika mereka mendurhakaimu maka
katakanlah:”Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang
kamu kerjakan”. -Qs. 26:216
Menarik, ada hadis lainnya :
Shahi Bukhari Vol 6, Book 60. Prophetic Commentary On The Qur’an (Ta…. Hadith 149.
Narrated By Ibn Abbas: Allah’s Apostle delivered a sermon and said, “O people! You will be gathered before Allah bare-footed, naked and not circumcised.” Then (quoting Quran) he said: “As We began the first creation, We shall repeat it. A promise We have undertaken: Truly we shall do it…” (21.104)
Narrated By Ibn Abbas: Allah’s Apostle delivered a sermon and said, “O people! You will be gathered before Allah bare-footed, naked and not circumcised.” Then (quoting Quran) he said: “As We began the first creation, We shall repeat it. A promise We have undertaken: Truly we shall do it…” (21.104)
The Prophet then said, “The first of the
human beings to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham.
Lo! Some men from MY FOLLOWERs will be brought and then (the angels)
will drive them to the left side (Hell-Fire). I will say. ‘O my Lord!
(They are) my companions!’ Then a reply will come (from Almighty), ‘You
do not know what they did after you.’ I will say as the pious slave (the
Prophet Jesus) said: And I was a witness over them while I dwelt
amongst them. When You took me up. You were the Watcher over them and
You are a Witness to all things.’ (5.117) Then it will be said, “These
people have continued to be apostates since you left them.”
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah
dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan
baginya siksa yang menghinakan. -Qs. an-Nisa’ 4:14
Wallau’alam … kembali lagi kepada anda masing-masing bagaimana memahami hal ini.
Bagaimana sekarang dengan kisah keributan di Saqifah seputar pemilihan Abu Bakar ?
Bukhari bercerita … dalam Vol 9, Book 88. Afflictions And The End Of The World. Hadith 227.
allegiance was given, are to be supported, lest they both should be killed.
Bagaimana sekarang dengan kisah keributan di Saqifah seputar pemilihan Abu Bakar ?
Bukhari bercerita … dalam Vol 9, Book 88. Afflictions And The End Of The World. Hadith 227.
allegiance was given, are to be supported, lest they both should be killed.
And no doubt after the death of the
Prophet we were informed that the Ansar disagreed with us and gathered
in the shed of Bani Sa’da. ‘Ali and Zubair and whoever was with them,
opposed us, while the emigrants gathered with Abu Bakr. I said to Abu
Bakr, ‘Let’s go to these Ansari brothers of ours.’ So we set out seeking
them, and when we approached them, two pious men of theirs met us and
informed us of the final decision of the Ansar, and said, ‘O group of
Muhajirin (emigrants) ! Where are you going?’ We replied, ‘We are going
to these Ansari brothers of ours.’ They said to us, ‘You shouldn’t go
near them.
Carry out whatever we have already
decided.’ I said, ‘By Allah, we will go to them.’ And so we proceeded
until we reached them at the shed of Bani Sa’da. Behold! There was a man
sitting amongst them and wrapped in something. I asked, ‘Who is that
man?’ They said, ‘He is Sa’d bin ‘Ubada.’ I asked, ‘What is wrong with
him?’ They said, ‘He is sick.’
After we sat for a while, the Ansar’s
speaker said, ‘None has the right to be worshipped but Allah,’ and
praising Allah as He deserved, he added, ‘To proceed, we are Allah’s
Ansar (helpers) and the majority of the Muslim army, while you, the
emigrants, are a small group and some people among you came with the
intention of preventing us from practicing this matter (of caliphate)
and depriving us of it.’
When the speaker had finished, I
intended to speak as I had prepared a speech which I liked and which I
wanted to deliver in the presence of Abu Bakr, and I used to avoid
provoking him. So, when I wanted to speak, Abu Bakr said, ‘Wait a
while.’ I disliked to make him angry. So Abu Bakr himself gave a speech,
and he was wiser and more patient than I. By Allah, he never missed a
sentence that I liked in my own prepared speech, but he said the like of
it or better than it spontaneously. After a pause he said, ‘O Ansar!
You deserve all (the qualities that you have attributed to yourselves,
but this question (of Caliphate) is only for the Quraish as they are the
best of the Arabs as regards descent and home, and I am pleased to
suggest that you choose either of these two men, so take the OATH OF
ALLEGIANCE to either of them as you wish. And then Abu Bakr held my hand
and Abu Ubada bin Abdullah’s hand who was sitting amongst us.
I hated nothing of what he had said
except that proposal, for by Allah, I would rather have my neck chopped
off as expiator for a sin than become the ruler of a nation, one of
whose members is Abu Bakr, unless at the time of my death my own-self
suggests something I don’t feel at present.’
And then one of the Ansar said, ‘I am
the pillar on which the camel with a skin disease (eczema) rubs itself
to satisfy the itching (i.e., I am a noble), and I am as a high class
palm tree! O Quraish. There should be one ruler from us and one from
you.’
Then there was a hue and cry among the
gathering and their voices rose so that I was afraid there might be
great disagreement, so I said, ‘O Abu Bakr! Hold your hand out.’ He held
his hand out and I pledged allegiance to him, and then all the
emigrants gave the Pledge of allegiance and so did the Ansar afterwards.
And so we became victorious over Sa’d bin Ubada (whom Al-Ansar wanted
to make a ruler). One of the Ansar said, ‘You have killed Sa’d bin
Ubada.’ I replied, ‘Allah has killed Sa’d bin Ubada.’ Umar added, “By
Allah, apart from the great tragedy that had happened to us (i.e. the
death of the Prophet), there was no greater problem than the allegiance
pledged to Abu Bakr because we were afraid that if we left the people,
they might give the Pledge of allegiance after us to one of their men,
in which case we would have given them our consent for something against
our real wish, or would have opposed them and caused great trouble. So
if any person gives the Pledge of allegiance to somebody (to become a
Caliph) without consulting the other Muslims, then the one he has
selected should not be granted allegiance, lest both of them should be
killed.”
Ternyata dari literatur Sunni paling
otentik pro dan kontra pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah dan juga
kerusuhan antar sahabat dihari wafatnya Rasul memang terbukti ada …. ini
selaras dengan apa yang kita lihat dalam sumber-sumber Syiah.
Manakala keadaan Madinah semakin
memanas, dan beberapa pihak berusaha menghasut terjadinya peperangan
antara pihak Ali dan Abu Bakar, sebuah keputusan berdamai diambil oleh
Ali demi menjaga persatuan umat dan terciptanya kedamaian.
“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan
darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah
daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau
kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang
demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). – Qs. al-Ahzaab 33:6
Berikut sambungan dari hadis Shahi Bukhari Vol 5, Book 59. Military Expeditions Led By The Prophe…. Hadith 546.
When FATIMA was alive, the people used
to respect ‘Ali much, but after her death, ‘Ali noticed a change in the
people’s attitude towards him. So Ali sought reconciliation with Abu
Bakr and gave him an oath of allegiance. ‘Ali had not given the oath of
allegiance during those months (i.e. the period between the Prophet’s
death and FATIMA’s death). ‘Ali sent someone to Abu Bakr saying, “Come
to us, but let nobody come with you,” as he disliked that ‘Umar should
come, ‘Umar said (to Abu Bakr), “No, by Allah, you shall not enter upon
them alone ” Abu Bakr said, “What do you think they will do to me? By
Allah, I will go to them’ So Abu Bakr entered upon them, and then ‘Ali
uttered Tashah-hud and said (to Abu Bakr), “We know well your
superiority and what Allah has given you, and we are not jealous of the
good what Allah has bestowed upon you, but you did not consult us in the
question of the rule and we thought that we have got a right in it
because of our near relationship to Allah’s Apostle.”
Thereupon Abu Bakr’s eyes flowed with
tears. And when Abu Bakr spoke, he said, “By Him in Whose Hand my soul
is to keep good relations with the relatives of Allah’s Apostle is
dearer to me than to keep good relations with my own relatives. But as
for the trouble which arose between me and you about his property, I
will do my best to spend it according to what is good, and will not
leave any rule or regulation which I saw Allah’s Apostle following, in
disposing of it, but I will follow.” On that ‘Ali said to Abu Bakr, “I
promise to give you the oath of allegiance in this after noon.” So when
Abu Bakr had offered the Zuhr prayer, he ascended the pulpit and uttered
the Tashah-hud and then mentioned the story of ‘Ali and his failure to
give the oath of allegiance, and excused him, accepting what excuses he
had offered; Then ‘Ali (got up) and praying (to Allah) for forgiveness,
he uttered Tashah-hud, praised Abu Bakr’s right, and said, that he had
not done what he had done because of jealousy of Abu Bakr or as a
protest of that Allah had favored him with. ‘Ali added, “But we used to
consider that we too had some right in this affair (of rulership) and
that he (i.e. Abu Bakr) did not consult us in this matter, and therefore
caused us to feel sorry.” On that all the Muslims became happy and
said, “You have done the right thing.” The Muslims then became friendly
with ‘Ali as he returned to what the people had done (i.e. giving the
oath of allegiance to Abu Bakr).
Yah, itulah sikap bijak Ahli Bait Nabi …
sebuah keteladanan yang paripurna sebagai buah dari didikan sang guru
yang mendapat bimbingan Allah sang empunya semesta alam ini.
sebuah riwayat dari Umar bin Abdul Aziz
yang juga berhubungan dengan kasus ini dan sebuah hadis lain dari Abu
Daud yang memperlihatkan betapa kasihnya Rasul terhadap diri Fatimah
puterinya itu :
Abu Dawud Book 13. Tribute, Spoils, and Rulership. Hadith 2966.
Narrated By Umar ibn Abdul Aziz: Al-Mughirah (ibn Shu’bah) said: Umar ibn AbdulAziz gathered the family of Marwan when he was made caliph, and he said: Fadak belonged to the Apostle of Allah (pbuh), and he made contributions from it, showing repeated kindness to the poor of the Banu Hashim from it, and supplying from it the cost of marriage for those who were unmarried. FATIMAH asked him to give it to her, but he refused.
Narrated By Umar ibn Abdul Aziz: Al-Mughirah (ibn Shu’bah) said: Umar ibn AbdulAziz gathered the family of Marwan when he was made caliph, and he said: Fadak belonged to the Apostle of Allah (pbuh), and he made contributions from it, showing repeated kindness to the poor of the Banu Hashim from it, and supplying from it the cost of marriage for those who were unmarried. FATIMAH asked him to give it to her, but he refused.
That is how matters stood during the
lifetime of the Apostle of Allah (pbuh) till he passed on (i.e. died).
When AbuBakr was made ruler he administered it as the Prophet (pbuh) had
done in his lifetime till he passed on. Then when Umar ibn al-Khattab
was made ruler he administered it as they had done till he passed on.
Then it was given to Marwan as a fief, and it afterwards came to Umar
ibn AbdulAziz. Umar ibn AbdulAziz said: I consider I have no right to
something which the Apostle of Allah (pbuh) refused to FATIMAH, and I
call you to witness that I have restored it to its former condition;
meaning in the time of the Apostle of Allah (pbuh).
Abu Dawud Book 28. Combing the Hair. Hadith 4201.
Narrated By Thawban: When the Apostle of Allah (pbuh) went on a journey, the last member of his family he saw was FATIMAH, and the first he visited on his return was FATIMAH. Once when he returned from an expedition she had hung up a hair-cloth, or a curtain, at her door, and adorned al-Hasan and al-Husayn with silver bracelets. So when he arrived, he did not enter. Thinking that he had been prevented from entering by what he had seen, she tore down the curtain, unfastened the bracelets from the boys and cut them off.
Narrated By Thawban: When the Apostle of Allah (pbuh) went on a journey, the last member of his family he saw was FATIMAH, and the first he visited on his return was FATIMAH. Once when he returned from an expedition she had hung up a hair-cloth, or a curtain, at her door, and adorned al-Hasan and al-Husayn with silver bracelets. So when he arrived, he did not enter. Thinking that he had been prevented from entering by what he had seen, she tore down the curtain, unfastened the bracelets from the boys and cut them off.
They went weeping to the Apostle of
Allah (pbuh), and when he had taken them from them, he said: Take this
to so and so’s family. Thawban. In Medina, these are my family, and I
did not like them to enjoy their good things in the present life. Buy
FATIMAH a necklace or asb, Thawban, and two ivory bracelets.
Kondisi ini terus berlangsung hingga
wafatnya Umar bin Khatab dan turunnya kredibelitas Usman bin Affan
selaku Khalifah ke-3 akibat ulah para keluarganya yang tamak dan haus
kekuasaan.
Keterbunuhan Usman bin Affan dan
pengangkatan dirinya sebagai Amirul Mukminin membangkitkan dendam lama
Quraisy terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi, walaupun berakhir dengan
baik dan terhormat, tidak urung pertempuran Jamal yang dipimpin langsung
oleh ‘Aisyah istri Nabi merupakan awal yang bagus untuk dimanfaatkan
oleh Muawiah bin Abu Sofyan dalam mengobarkan pemberontakan terhadap
otoritas kepemimpinan Ali.
Ali akhirnya terbunuh dimasjid Kufah
akibat tusukan pedang beracun milik salah seorang dari kelompok Khawarij
bernama Abdurahman bin Muljam pada suatu Jum’at pagi dan menghembuskan
nafas terakhirnya pada malam Ahad 21 Ramadhan 40 H.
Setelah kematian Ali bin Abu Thalib,
Hasan puteranya tertua diangkat oleh sekelompok besar sahabat Nabi
selaku Khalifah pengganti. Namun lagi-lagi Muawiyah tidak senang dan
terus mengobarkan semangat permusuhan dengan Ali dan keturunannya, orang
dipaksa untuk mencaci maki keluarga Nabi itu sejahat-jahatnya bahkan
termasuk dalam mimbar-mimbar Jum’at.
Kenyataan ini jelas semakin memperdalam
kehancuran persatuan umat Islam, suatu ironi yang tidak dapat
dihindarkan, betapa dengan susah payah Nabi menggalang satu tatanan
kehidupan masyarakat yang madani dengan mengorbankan air mata dan
tetesan darah para syuhada harus hancur dihadapan cucu beliau sendiri.
Akhirnya Hasan bin Ali memutuskan untuk
berdamai dengan Muawiyah dan menyerahkan tampuk kekuasaan Khalifah
kepadanya demi untuk menghindarkan jurang yang lebih dalam lagi
dikalangan umat Islam dengan beberapa persyaratan perjanjian.
Beberapa isi dari perjanjian itu adalah
pemerintahan Muawiyah akan menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab
Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjaga persatuan umat, menyejahterakannya,
melindungi kepentingannya, tidak membalas dendam kepada anak-anak yang
orang tuanya gugur didalam berperang dengan Muawiyah juga tidak
mengganggu seluruh keluarga Nabi Muhammad Saw baik secara
terang-terangan maupun tersembunyi dan menghentikan caci maki terhadap
para Ahli Bait ini serta tidak mempergunakan gelar “Amirul Mukminin”
sebagaimana pernah disandang oleh Khalifah Umar bin Khatab dan Khalifah
Ali bin Abu Thalib.
Akan tetapi selang beberapa saat sesudah
Muawiyah diakui sebagai Khalifah, dia mulai melanggar isi perjanjian
tersebut, orang-orang yang dianggap mendukung keluarga Nabi diculik dan
dibunuh, perbendaharaan kas baitul mal Kufah disalah gunakan, caci maki
terhadap keturunan Nabi dari Fatimah kembali dibangkitkan malah lebih
parah lagi mereka memaksa orang untuk memutuskan hubungan dengan ahli
Bait Nabi.
Tidak hanya sebatas itu, beberapa hukum
agama yang diatur oleh Nabi Muhammad Saw pun dirombak oleh Muawiyah,
misalnya Sholat hari raya mempergunakan azan, khotbah lebih didahulukan
daripada sholat, laki-laki diperbolehkan memakai pakaian sutera dan
sebagainya.
Mereka juga membuat
pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw dan
beberapa sahabat utama yang sebenarnya tidak pernah ada.
Hal ini membuat prihatin para pendukung
Hasan bin Ali bin Abu Thalib, mereka sepakat untuk kembali menyatakan
cucu Nabi Saw ini selaku seorang Imam atau pemimpin mereka.
Orang-orang ini diantaranya Hajar bin Adi, Adi bin Hatim, Musayyab bin Nujbah, Malik bin Dhamrah, Basyir al-Hamdan dan Sulaiman bin Sharat.
Orang-orang ini diantaranya Hajar bin Adi, Adi bin Hatim, Musayyab bin Nujbah, Malik bin Dhamrah, Basyir al-Hamdan dan Sulaiman bin Sharat.
Akan tetapi selang tak lama, putera
pertama dari Fatimah az-Azzahrah ini wafat karena diracun, lama masa
pemerintahan Khalifah Hasan ini 6 bulan lebih 1 hari.
Kekejaman dinasti Bani Umayyah terhadap
Bani Hasyim keturunan Nabi Muhammad Saw terus berlanjut sampai pada masa
pemerintahan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan yang melakukan
pembantaian besar-besaran atas diri Husain sekeluarga dan para
pengikutnya dipadang Karbala pada hari Asyura.
Kepala Husain yang mulia telah
dipenggal, wanita dan anak-anak di-injak-injak, wanita hamil serta orang
tua pun tidak luput dari pembunuhan kejam itu.
Seluruh keturunan Nabi Muhammad Saw
melalui Ali bin Abu Thalib terus dicaci maki meskipun tubuh mereka telah
bersimbah darah merah, semerah matahari senja yang meninggalkan cahaya
ke-emasannya untuk berganti pada kegelapan.
Kekejaman Yazid dalam membunuh Husain,
menyembelih anak-anak dan pembantu-pembantunya, begitu pula memberi aib
kepada wanita-wanitanya, ditambah dalam tahun ke-2 memperkosa kota
Madinah yang suci serta membunuh ribuan penduduknya, tidak kurang dari
700 orang dari Muhajirin dan Anshar sahabat-sahabat besar Nabi yang
masih hidup.
Marilah sekarang kita berpikir secara
objektif, apakah perbuatan ini dianggap baik oleh orang yang mengaku
mencintai Nabinya dan senantiasa bersholawat kepada beliau dan
keluarganya dalam setiap sholat ?
Masihkah kita berpikir jahat terhadap
orang yang mencintai dan mengasihi ahli Bait sementara kita sendiri
justru berusaha untuk membela orang-orang yang justru telah secara nyata
melakukan pembasmian terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw ?
Permusuhan Muawiyyah bin Abu Sofyan
terhadap Bani Hasyim terus menurun kepada generasi sesudahnya seperti
Yazid bin Muawiyah, Marwan, Abdul Malik dan Walid, barulah pada
pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz keadaan berubah.
Sekalipun Umar bin Abdul Aziz berasal
dari klan Bani Umayyah sebagaimana juga pendahulunya, namun beliau bukan
orang yang zalim, seluruh penghinaan terhadap keluarga Nabi
dilarangnya, sebaliknya beliau membersihkan nama dan sangat menghormati
para ahli Bait.
Sebagai tambahan catatan, dendam lama
antara Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim pernah secara nyata dilakukan
pada jaman Nabi Muhammad Saw masih hidup, yaitu manakala Hindun istri
Abu Sofyan (orang tua dari Muawiyah) melakukan permusuhan terhadap Rasul
dan bahkan ia juga yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib secara licik
dalam peperangan Uhud lalu tanpa prikemanusiaan mencincang tubuh paman
Nabi itu lalu mengunyah hatinya dimedan perang.
Namun pembalasan apa yang dilakukan oleh
Rasulullah Muhammad Saw ketika berhasil menguasai seluruh kota Mekkah
pada hari Fath Mekkah ?
Seluruh kejahatan Abu Sofyan dan Hindun
justru dimaafkan begitu saja oleh Nabi dan rumah Abu Sofyan dinyatakan
sebagai tempat yang aman bagi semua orang sebagaimana juga Masjidil
Haram dinyatakan bersih dan terjamin keselamatan orang-orang yang berada
disana.
Sungguh bertolak belakang sekali perlakuan generasi Bani Hasyim dibanding perlakukan Bani Umayyah terhadap sisa-sisa Bani Hasyim dari keturunan Nabi.
Sungguh bertolak belakang sekali perlakuan generasi Bani Hasyim dibanding perlakukan Bani Umayyah terhadap sisa-sisa Bani Hasyim dari keturunan Nabi.
Jika keagungan tujuan, kesempitan sarana
dan hasil yang menakjubkan, adalah tiga kriteria kejeniusan manusia,
siapa yang berani membandingkan manusia yang memiliki kebesaran didalam
sejarah modern dengan Muhammad ?
Orang-orang paling terkenal menciptakan tentara, hukum dan kekaisaran semata.
Mereka mendirikan apa saja, tidak lebih dari kekuatan material yang acapkali hancur didepan mata mereka sendiri.
Mereka mendirikan apa saja, tidak lebih dari kekuatan material yang acapkali hancur didepan mata mereka sendiri.
Nabi Muhammad Saw, Rasul Allah yang
agung, penutup semua Nabi, tidak hanya menggerakkan bala tentara, rakyat
dan dinasti, mengubah perundang-undangan, kekaisaran. Tetapi juga
menggerakkan jutaan orang bahkan lebih dari itu, dia memindahkan
altar-altar, agama-agama, ide-ide, keyakinan-keyakinan dan jiwa-jiwa.
Berdasarkan sebuah kitab, yang setiap
ayatnya menjadi hukum, dia menciptakan kebangsaan beragama yang
membaurkan bangsa-bangsa dari setiap jenis bahasa dan setiap ras.
Dalam diri Muhammad, dunia telah menyaksikan fenomena yang paling jarang diatas bumi ini, seorang yang miskin, berjuang tanpa fasilitas, tidak goyah oleh kerasnya ulah para pendosa.
Dia bukan seorang yang jahat, dia keturunan baik-baik, keluarganya merupakan keluarga yang terhormat dalam pandangan penduduk Mekkah kala itu.
Dalam diri Muhammad, dunia telah menyaksikan fenomena yang paling jarang diatas bumi ini, seorang yang miskin, berjuang tanpa fasilitas, tidak goyah oleh kerasnya ulah para pendosa.
Dia bukan seorang yang jahat, dia keturunan baik-baik, keluarganya merupakan keluarga yang terhormat dalam pandangan penduduk Mekkah kala itu.
Namun dia meninggalkan semua kehormatan
tersebut dan lebih memilih untuk berjuang, mengalami sakit dan derita,
panasnya matahari dan dinginnya malam hari ditengah gurun pasir hanya
untuk menghambakan dirinya demi Tuhannya. Dia lebih baik dari apa yang
semestinya terjadi pada seseorang seperti dia.
Mari kita semua berpikir objektif dan mengedepankan kejujuran … sekali lagi, jika dengan mencintai keluarga Nabi maka seseorang disebut sebagai Syiah, maka saya adalah Syi’ah … tetapi apakah Syi’ah dalam arti aliran keagamaan ? – Tidak – Islam yang saya yakini bukan Islam yang disekat oleh aliran dan madzhab.
Mari kita semua berpikir objektif dan mengedepankan kejujuran … sekali lagi, jika dengan mencintai keluarga Nabi maka seseorang disebut sebagai Syiah, maka saya adalah Syi’ah … tetapi apakah Syi’ah dalam arti aliran keagamaan ? – Tidak – Islam yang saya yakini bukan Islam yang disekat oleh aliran dan madzhab.
Semoga bermanfaat dan lebih obyektif …
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” -QS. Al-Ma’idah 5:8
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” -QS. Al-Ma’idah 5:8
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking